Jumat, 24 Juni 2016

Prinsip-Prinsip Penelitian Kualitatif



Materi Kuliah Metode Penelitian Sosial (MPS) Kualitatif untuk Mahasiswa S1,
Rabu 20 Februari 2013 (materi asli dalam bentuk Power Point)


Prinsip Umum (1)

  • Seperti telah dijelaskan sebelumnya, tujuan utama penelitian kualitatif adalah keinginan peneliti untuk memahami realitas dari sudut pandang subjek penelitian (informan), BUKAN kita sebagai peneliti.

  • Manifestasinya, kita berupaya mengonstruksikan dunia informan melalui sejumlah konsep (kata) asli yang diekspresikan informan.

  • Dengan kata lain, kita berusaha masuk dalam kerangka kemasukakalan (relevance structure) informan yang mungkin kontras dengan yang kita miliki. Bagi kita mungkin hal itu tidak masuk akal, namun baginya itu adalah dunia yang bermakna karena cara inilah ia melihat keteraturan dalam dunia (nomos); bukan kekacauan (anomi), atau keterasingan (alienasi).


Ilustrasi 1

  • Bagi peneliti Barat, termasuk kita yang umumnya sangat dipengaruhinya, kekuasaan adalah sesuatu yang muncul dari relasi sesama manusia; abstrak; memiliki banyak sumber, relatif kurang kompetitif.

  • Orang Jawa melihat dengan cara yang berbeda: kekuasaan adalah hasil yang diperoleh manusia dari alam supranatural, konkret; dan hanya memiliki satu sumber, sangat kompetitif. Konsep itu tergambar, sebagian, dalam istilah Jawa disebut sebagai wangsit.
Bencana di Yogya berupa gempa dan meletusnya gunung berapi disebabkan karena sultan bukan lagi raja tetapi gubernur, karena tidak memperoleh wangsit dan pangestu dari alam semesta. Dengan kata lain, beliau bukan lagi Hamengku Buwono (Pemangku Semesta).


Ilustrasi 2 – Diskusi

  • Jawa: Sadulur papat, kalima pancer (setiap individu memiliki saudara kandung berupa air ketuban, buni, darah, ari-ari, serta diri-yang-sesungguhnya yang transendetal karena bertalian langsung dengan Gusti). Orang yang sukses adalah mereka yang menghargai keberadaan hal itu.

  • Jawa: Banyak anak, banyak rezeki; setiap anak punya rezekinya sendiri.

  • Warga Gunung Kidul: Bunuh diri adalah karena yang bersangkutan melihat pulung gantung (sosok seperti komet).

  • Buddhisme: Tuhan sebagai alam semesta (pratitya samutpada) yang terdiri dari keteraturan alam (dharma).

  • Buddhisme: Nirvana, kemampuan manusia untuk mengatasi cobaan hidup (samsara).

  • Taoisme: Kesehatan adalah keseimbangan antara dua kekuatan semesta yang terdiri dari yin (kelembutan, kewanitaan) dan yang (kekuatan, kelelakian).


Prinsip Umum 2

  • Setelah kita memahami realitas, tugas peneliti adalah menerjemahkan dalam konsep (kata) yang berlaku dalam suatu disiplin ilmu tertentu (sosiologi).

  • Perwujudan itu dapat dilihat dari contoh judul penelitian kualitatif:

-          Wangsit: Studi Sosiologis tentang Gagasan Kekuasaan di Kalangan Orang Kejawen di Desa Wonorejo, Kecamatan Wonosari, Blitar”

-          Pulung Gantung: Antara Solidaritas Sosial dan Solidaritas Spiritual,” atau “Pulung Gantung sebagai Bunuh Diri Tipe Altruistik: Studi Kasus di Gunung Kidul”


Prinsip Umum 3

  • Penelitian kualitatif adalah penelitian induktif: berawal dari data (empirik), setelah melalui proses pengolahan, berakhir dengan kesimpulan (konsep atau teori). Sedangkan dalam terminologi penelitian kuantitatif: berawal dari realitas, indikator, variabel,  berakhir dengan konsep dan/atau teori.

  • Dengan kata lain, penelitian kualitatif adalah suatu upaya konseptualisasi, teoritisasi, abstraksi. Tetapi, perlu ditekankan bahwa penelitian kualitatif juga tidak berusaha mengangkat konsep atau teori yang terlalu abstrak (jauh dari realitas), sebagaimana digunakan oleh Parsons atau Giddens, misalnya.

  • Dengan cara inilah, penelitian kualitatif tidak mengenal istilah sekaligus masalah validitas (kesesuaian konsep dengan indikator).


Prinsip Umum 4

  • Penelitian kualitatif adalah proses pengumpulan dan pengolahan data untuk menciptakan penjelasan yang telah teruji (tesis atau teori), bukan HIPOtesis.

  • Peneliti kualitatif awalnya bekerja dengan hipotesis tertentu, namun setelah menguji hal itu di lapangan dan terbukti tidak dapat menjelaskannya, ia mengajukan hipotesis baru, mengujinya, demikian berkali-kali hingga ia menemukan satu penjelasan yang kokoh (TESIS).

  • Singkatnya, penelitian kualitatif adalah proses menanggalkan HIPO dari kata HIPOTESIS, sehingga tersisa hanya TESIS. Dengan kata lain, penelitian kualitatif adalah penghasil tesis (generating theory), bukan penguji hipotesis (testing hypotheses).


Ilustrasi

  • Seorang peneliti mungkin awalnya berangkat dari hipotesis bahwa kemiskinan merupakan penyebab terjadinya prostitusi. Namun ketika ia melihat beberapa Pekerja Seks Komersial (PSK) di suatu desa  berasal dari keluarga yang memiliki tanah, ternak, dan rumah yang besar; ia meninggalkan hipotesis itu, ia mungkin beralih ke norma-norma yang berlaku dalam komunitas itu. Bila hal itu pun tidak terbukti, ia berupaya menemukan hipotesis lain sehingga akhirnya ia memperoleh temuan (tesis) yang solid karena didukung data.


Prinsip Umum 5

  • Penelitian kualitatif adalah proses pengumpulan dan pengolahan data yang menggunakan istilah atau kata yang berlaku dalam suatu komunitas, bukan konsep abstrak yang dioperasionalisasikan di satu pihak, dan di pihak lain cenderung berfokus pada suatu kelompok yang spesifikasinya sudah dirumuskan secara teliti dan terfokus. Karena itulah, penelitian kualitatif pada hakikatnya tidak mengenal istilah atau masalah reliabilitas (kesesuaian hasil pengukuran).


Prinsip Umum 6

  • Penelitian kualitatif adalah proses pengumpulan dan pengolahan data yang memusatkan perhatian kepada individu atau kelompok khusus dalam ruang dan waktu tertentu.

  • Ditambah fakta bahwa penelitian kualitatif tidak berambisi untuk menemukan temuan umum (generalisasi), maka ia condong tidak mengenal istilah atau masalah representativitas (sampling).


Prinsip Umum 7

  • Penelitian kualitatif adalah suatu proses siklis, tanpa tahapan prosedural yang kaku. Siklis merujuk kepada suatu rangkaian kegiatan yang terus-menerus berjalan tanpa memerhatikan titik awal, tengah, dan akhir. Peneliti bisa mulai dari berkunjung ke lapangan, melakukan wawancara dan observasi, merumuskan permasalahan, membuat desain, mengolah data, kembali ke pengumpulan data, menganalisis, mengubah proposal, menulis laporan, mengolah data baru, dan seterusnya.

  • Walau demikian, sangat dianjurkan agar peneliti sejak awal memiliki kedekatan, baik secara kognitif maupun afektif, dengan subjek penelitian.


Prinsip Umum 8

  • Penelitian kualitatif adalah proses pengumpulan dan pengolahan data yang memusatkan perhatian pada informan (orang yang pengetahuannya dapat mewakili dirinya sendiri dan/atau orang lain).

  • Fokusnya pada intensitas (kualitas) data, bukan pada jumlah (kuantitas) data. Karena itu, jumlah atau representativitas (sampling) bukan isu atau masalah dalam penelitian kualitatif.


Prinsip Umum 9

  • Penelitian kualitatif adalah proses pengumpulan dan pengolahan data yang dari sejak awal peneliti kurang-lebih telah mengetahui:

-          Siapa yang menjadi subjek penelitian (aktor)
-          Bagaimana tindakan-tindakan aktor yang menjadi fokus pemahaman penelitian (aksi)
-          Bagaimana hubungan aktor yang menjadi subjek penelitian dengan aktor-aktor lain (relasi)
-          Di mana semua itu dilakukan (ruang)
-          Sejak kapan semua itu dilakukan (waktu)


Manifestasinya dalam Penulisan Laporan

  • Berbeda dengan penelitian kuantitatif, peneliti relatif memiliki kebebasan dalam  menampilkan format tulisannya. Prinsip yang berlaku adalah subtansi (isi) data yang menentukan format (bentuk).

  • Laporan biasanya memberi penjelasan yang memadai tentang dinamika (proses), sejarah (waktu), dan lokasi atau geografi (ruang), yang uraiannya bersentuhan langsung dengan tema yang dikaji.


Manifestasinya dalam Desain Riset

  • Latar Belakang
Peneliti mengemukakan beberapa alasan (baik objektif maupun subjektif, akademik atau praksis) mengapa ia memilih satu topik atau tema tertentu. Hindarkan kebiasaan hanya terpaku pada aspek signifikansi praksis bagi kepentingan kebijakan pembangunan. Dianjurkan untuk memasukkan unsur akademik, pengetahuan lokasi, aktor,  pengalaman pribadi, dan sebagainya.

  • Permasalahan
Peneliti mengemukakan permasalahan (bagaimana, mengapa), bukan pertanyaan (siapa, di mana, kapan, berapa banyak).  Ini bertumpu pada asumsi bahwa peneliti sudah harus mengetahui semua elemen dasar tentang subjek penelitiannya.

  • Kajian Pustaka
Peneliti mengemukakan pemetaan studi-studi sebelumnya (persamaan dan perbedaannya), evaluasi umum yang menunjukkan kekuatan dan kelemahan studi, serta titik fokus yang ingin diberi perhatian awal. Perhatikan: hindarkan kebiasaan membuat semacam resensi untuk setiap literatur. Beri pula perhatian kritis pada berbagai istilah yang digunakan para peneliti tersebut. Ingatlah, peneliti kualitatif bukan ingin menggunakan istilah atau konsep mereka, dan sekadar menguji benar atau salahnya.

  • Metodologi
Peneliti menjabarkan secara lengkap bagaimana prosedur pengumpulan dan pengolahan datanya. Perhatikan: berikan penjelasan tentang apa yang sebenarnya dilakukan peneliti, apa adanya, bukan apa yang seharusnya dilakukan (seperti memberikan definisi tentang arti wawancara, misalnya). Hindarkan pula istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian kuantitatif seperti populasi, sampel, validitas, reliabilitas, dan sebagainya. Perhatikan: Tidak ada asumsi absolut bahwa “kesimpulan yang benar hanya bisa dicapai melalui metode yang benar menurut standar tertentu.”


Penelitian Kualitatif - Introduksi




Materi Kuliah Perdana Metode Penelitian Sosial (MPS) Kualitatif 
untuk Mahasiswa S1
Senin 18 Februari 2013 (materi asli dalam bentuk Power Point)


Asumsi Penelitian Kualitatif

      Realitas adalah sesuatu yang berada di dalam, dalam kepala manusia, baik sebagai individu maupun kelompok (kontras dengan penelitian kuantitatif: realitas ada di luar sana);

      Realitas adalah sesuatu yang relatif berada dalam kendali manusia; manusia yang menciptakan realitas (kontras dengan penelitian kuantitatif: realitas bersifat otonom, memaksa);

      Realitas cenderung banyak, jamak, plural, berwarna-warni, relatif mengikuti jumlah individu maupun kelompok (kontras dengan penelitian kuantitatif: realitas cenderung tunggal atau sedikit, singular);

      Realitas relatif ditentukan sepenuhnya oleh subjek penelitian (kontras dengan penelitian kuantitatif: realitas ditentukan peneliti dan/atau komunitas ilmiah).


Tujuan Utama Penelitian Kualitatif

      Seperti penelitian kuantitatif, penelitian kualitatif berusaha menggambarkan realitas (kebenaran empirik), namun dalam prosedurnya peneliti mengambil sudut pandang dari manusia yang mengalaminya.

      Peneliti bukan sebagai penentu realitas, ia hanya mengabstraksikan realitas yang dilihat dan dirasakan oleh subjek penelitian sebagai dunia yang bermakna, sedemikian sehingga peneliti dan publik dapat memahami realitasnya yang mungkin unik, berbeda dengan realitas sosial pada umumnya.

      Peneliti  dan komunitas ilmiah yang diwakilinya harus menyadari bahwa dunianya memiliki perbedaan dengan dunia subjek penelitian. Dengan penuh kesadaran, ia harus mengerangkeng (bracketing) kebenaran yang berlaku di dunianya, agar tidak mendistorsi kebenaran yang berlaku di dunia subjek penelitiannya.


Dunia yang Bermakna – Kerangka Kemasukakalan

      Realitas atau kebenaran pada hakikatnya adalah suatu bangunan pemahaman yang terdiri dari sejumlah konsep atau kata.

      Apa pun statusnya, ilmuwan atau orang awam, senantiasa membangun dunia secara kognitif. Mereka menciptakan, menggunakan, mengaktivasi, dan menghubungkan konsep-konsep dalam suatu pola. Secara umum, manifestasinya tercermin dalam bahasa (sub-bahasa, termasuk pemakaian jargon atau slang). Dalam terminologi penelitian kuantitatif, ia adalah apa yang selama ini dikenal sebagai model analisis (hubungan variabel dependen-independen).

      Untuk bisa memahami dunia subjek penelitian, peneliti harus dapat mengerti kata-kata penting dan mampu mengidentifikasi relasi yang kompleks di antara satu kata dengan kata lainnya.

      Kegagalan untuk melakukan hal itu tentu saja berakibat pada distorsi, bahkan alineasi realitas, terutama bagi subjek penelitian. Mereka tidak mengenali lagi dunianya, bahkan mungkin memiliki risiko untuk disebut sebagai manusia yang aneh, tidak normal, sinting, serta memperoleh perlakuan yang tidak adil.


Tugas Utama Peneliti Kualitatif

      Menggambarkan dunia yang dialami subjek penelitian sebagai sesuatu yang bermakna bagi subjek penelitian, sehingga peneliti dan publik dapat memahaminya walau pihak yang disebut terakhir mungkin saja tidak menyetujuinya.

      Secara teknis, manisfestasi hal itu dilakukan dengan mengonstruksikan konsep (kata) asli yang digunakan subjek penelitian, dan me-RE-konstruksikannya ke dalam terminologi yang berlaku dalam disiplin keilmuan.


Pengertian Penelitian Kualitatif

      Jenis pengumpulan dan pengolahan data yang berawal pada konstruksi realitas subyek penelitian, berorientasi pada aktor yang berproses dalam ruang dan waktu tertentu, serta berakhir pada rekonstruksi ilmiah realitas sosial itu sehingga memiliki potensi besar untuk memproduksi pemahaman baru tentang suatu tema tertentu.


Kata Kunci Metodologis

Pengumpulan dan pengolahan data merujuk ke hakikat semua penelitian yang berdasarkan  upaya sistematik, logik, objektif, dan empirik.
           
     Pengumpulan data adalah proses mengumpulkan fakta-fakta empirik tentang apa yang menjadi tujuan penelitian.
     Pengolahan data adalah proses menyederhanakan, mengubah data menjadi informasi, sedemikian sehingga dapat dibuat suatu kesimpulan.


Karakteristik Penelitian Kualitatif

      Aktor, yakni individu-individu yang melakukan tindakan seperti profil atau karakteristik (Kontras dengan penelitian kuantitatif yang berorientasi pada variabel);

      Tindakan, yakni gerakan-gerakan yang dilakukan individu yang berimplikasi sosial (tema, subjek yang menjadi pokok penelitian; kontras dengan penelitian kuantitatif yang sepenuhnya berorientasi pada variabel), yakni agregasi dari tindakan tertentu seperti sosialisasi misalnya, yang terpaku pada contohnya pengasuhan anak;

      Ruang, yakni tempat aktor-aktor melakukan tindakan (kontras dengan penelitian kuantitatif yang cenderung  mengabaikan hal ini);

      Waktu, yakni rangkaian tindakan aktor dan/atau peristiwa dari satu titik ke titik lain dalam suatu atau beberapa periode (sejarah; kontras dengan penelitian kuantitatif yang cenderung membekukan waktu);

      Proses, yakni pemerian bagaimana suatu peristiwa terjadi, urutan tindakan tahap demi tahap (kontras dengan penelitian kuantitatif yang cenderung mengabaikan hal ini);

      Makna, yakni kerangka konsep yang tipikal dengan mana individu-individu menafsirkan segala sesuatunya (kontras dengan penelitian kuantitatif yang cenderung mengabaikan hal ini);

      Relasi, yakni hubungan yang kompleks di antara aktor-aktor dengan lingkungannya (kontras dengan penelitian kuantitatif yang cenderung mengabaikan hal ini);

      Konstruksi, yakni membangun suatu realitas sosial menurut perspektif subjek penelitian;

      Rekonstruksi, yakni membangun kembali realitas menurut perspektif peneliti (kontras dengan penelitian kuantitatif yang cenderung memaksakan realitasnya pada subjek penelitian);

      Pemahaman baru, merujuk kepada pemaknaan suatu kelompok orang tentang dunia, suatu konstruksi sosial yang berbeda dari ‘standar’ yang berlaku (kontras dengan penelitian kuantitatif yang cenderung hanya membenarkan pemahaman/teori yang selama ini ada);

      Induksi, yakni proses penarikan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan (premis mayor-minor), atau pembentukan teori dari data (kontras dengan penelitian kuantitaif yang cenderung deduktif);

      Deskripsi, yakni pelukisan yang kaya warna, detil, dan komprehensif (kontras dengan penelitian kuantitatif yang cenderung pada ‘eksplanasi’).


Sasaran Penelitian

      Informan
Orang yang memiliki informasi, yakni pengetahuan yang paling komprehensif tentang subjek penelitian tertentu. (Bukan responden yang sekadar bersikap “tahu atau tidak tahu, setuju atau tidak setuju).

      Kriteria Pemilihan
Berdasarkan informasi yang dimilikinya, baik tentang dirinya maupun orang-orang lain. Pemilihan selektif, tidak ada relevansi membicarakan pemilihan secara acak (random).

      Jumlah Informan
Sedikit (hitungan jari),  tidak ada relevansi membicarakan jumlah tertentu yang dianggap memenuhi asumsi statistik tertentu. Dasar pemilihan informan adalah informasi yang dimilikinya.


Teknik Pengumpulan Data

      Wawancara Mendalam
Merangsang informan untuk berbicara secara lengkap hanya dengan bertanya sesedikit mungkin.

      Pengamatan
            Mendayagunakan mata untuk mengambarkan situasi penelitian seobjektif mungkin.

      Pencatatan
Menuliskan hasil wawancara mendalam dan pengamatan ke dalam rangkaian huruf yang dapat dipahami bersama.


Rumus Pengumpulan Data Kualitatif




Teknik Pengolahan Data Kualitatif

      Meringkaskan semua hasil pencatatan penelitian.

      Mengumpulkan kosa kata (konsep) kunci yang diajukan informan.

      Melakukan abstraksi penelitian ke dalam konsep-konsep.

      Mengubah konsep-konsep itu dalam terminologi ilmiah standar.

      Mengorganisasikan konsep-konsep itu ke dalam suatu sistem pemahaman (teori).


Rumus Pengolahan Data Kualitatif




Keunggulan Penelitian Kualitatif

      Kemampuan untuk menggambarkan suatu fenomena secara kaya dan berwarna;

      Kemampuan untuk menghindari masalah vadilitas & reliabilitas;

      Kemampuan untuk menghindari masalah representativitas (sampling);

      Kemampuan untuk menghasilkan konsep dan/atau teori baru.


Kelemahan Penelitian Kualitatif

      Relatif membutuhkan waktu yang lebih lama;

      Cenderung tidak memiliki prosedur yang rigid;

      Cenderung kontekstual, kurang memiliki kemampuan generalisasi;

      Relatif kurang memiliki kemampuan untuk menguji hubungan antar konsep (variabel);

      Relatif kurang memiliki kemampuan prediktif.