Minggu, 24 April 2016

Sosiologi Organisasi: Pengantar mengenai Hakikat, Makna, dan Cara



[Makalah pada Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Dasar, UI Depok, 9 September 1999]

Paper berikut hanyalah suatu pengantar. Ia tidak akan membuat Anda seketika berubah menjadi ahli organisasi. Kendati demikian, ia setidaknya akan membimbing Anda ketika Anda dan sejumlah orang lainnya bermaksud mendirikan dan/atau mempertahankan serta mengembangkan organisasi.


1.       Apa Organisasi?

Organisasi adalah unit sosial, yakni suatu pengelompokan manusia di dalamnya terjadi interaksi di antara para anggotanya. Ini merupakan perwujudan dari sifat manusia sebagai makhluk sosial yang senang berkumpul dan berhubungan satu sama lain. Sebagai unit sosial, sebenarnya tidak ada perbedaan mendasar antara organisasi dengan keluarga, kelompok pertemanan (peer group), ketetanggaan (neighborhood), komunitas (community), maupun masyarakat (society).

Pertanyaannya sekarang, apa perbedaan mendasar antara organisasi dengan unit-unit sosial lainnya? Secara sederhana perbedaan itu terletak pada hakikat organisasi sebagai unit sosial yang relatif paling rasional, yakni keselarasan (konsistensi) antara cara (sarana) dengan tujuan. Dengan demikian, organisasi dianggap sebagai unit sosial yang memiliki tingkat keselarasan cara-tujuan yang paling tinggi dibandingkan keluarga atau kelompok pertemanan, misalnya.

Rasionalitas organisasi terlihat pada beberapa aspek berikut yang saling bertalian erat:

a)      Perumusan dan pengendalian tujuan secara berkesinambungan
Setiap unit sosial pasti memiliki tujuan. Namun hanya dalam organisasi, tujuan-tujuan tersebut dinyatakan secara tegas, eksplisit, dan dinyatakan secara tertulis. Dengan cara itu, organisasi memiliki dasar awal yang kokoh untuk mengendalikan tindakan-tindakan anggotanya. Tujuan organisasi jelas mengatasi tujuan individual atau kelompok yang menjadi anggota-anggotanya. Setiap tindakan para anggota harus selalu mengarah kepada pencapaian tujuan yang ditetapkan oleh organisasi.

b)      Pengendalian emosi (afeksi) dalam hubungan di antara anggota
Sebagai unit sosial, organisasi jelas terdiri dari individu-individu yang saling berhubungan. Namun hanya dalam organisasi, hubungan-hubungan tersebut dibatasi hanya berdasarkan terminologi fungsional. Dengan cara ini, organisasi dapat memastikan diri bahwa setiap tindakan para anggota sepenuhnya dapat berorientasi kepada pencapaian tujuan organisasi.

c)      Pembagian pekerjaan di antara anggota
Apa pun jenisnya, setiap unit sosial pasti memiliki pembagian pekerjaan: ada satu atau sejumlah orang yang bertugas melakukan suatu tugas tertentu. Namun hanya dalam organisasi, pembagian pekerjaan itu dilaksanakan berdasarkan mekanisme tugas yang rinci dan kompleks. Dengan cara ini, organisasi dapat lebih memastikan tindakan para anggota sepenuhnya dan dapat berorientasi kepada pencapaian tujuan organisasi.

d)      Perombakan organisasional
Upaya terakhir untuk memastikan setiap anggota sepenuhnya berorientasi kepada pencapaian tujuan adalah dengan mengadakan semacam upaya yang secara populer dikenal sebagai ‘rasionalisasi.’ Dari waktu ke waktu, organisasi sering memberhentikan para anggotanya, baik dalam skala kecil maupun skala besar, bahkan dalam kasus ekstrem menyatakan diri bangkrut, membubarkan diri, dan membentuk organisasi yang sama sekali baru. Hal ini jelas sangat membedakan organisasi dengan unit-unit sosial lainnya.

Dengan kata lain, singkatnya, organisasi merupakan unit sosial yang relatif paling sadar tujuan. Manifestasi kesadaran itu terlihat pada konsep yang kita kenal sebagai efektivitas dan efisiensi. Efektivitas merujuk kepada besaran pencapaian tujuan, sedangkan efisiensi merujuk kepada perbandingan antara besaran pencapaian tujuan dengan biaya untuk mencapainya.


2.      Mengapa Kita Berorganisasi?

Peradaban manusia pada hakikatnya ditentukan oleh perkembangan unit sosial, yakni perkembangan dari unit sosial yang tradisional menuju unit sosial yang rasional. Tepatnya, dari keluarga menjadi organisasi. Hal yang membedakan antara masyarakat primitif dengan masyarakat maju terletak pada fakta bahwa masyarakat yang disebut terakhir ini didominasi oleh organisasi ketimbang oleh keluarga.

Ini berarti masyarakat sekarang cenderung jauh lebih rasional. Dalam masyarakat semacam ini, para anggotanya memiliki kesadaran tujuan yang tinggi, pengendalian emosi yang tinggi, pembagian pekerjaan yang tinggi. Dan manifestasi dari semua hal itu diwujudkan pada usaha yang tidak henti-hentinya untuk membongkar dan memperbaiki organisasi.

Salah satu contoh konkret yang paling mencolok adalah perubahan unit sosial keluarga menjadi organisasi pendidikan yang sering kita sebut sebagai sekolah. Awalnya pendidikan dilaksanakan sepenuhnya oleh orangtua dan/atau sanak keluarga lainnya. Namun mengikuti perkembangan zaman, peran itu berangsur-angsur diambil alih oleh unit sosial lain yang lebih rasional.

Mengikuti pernyataan sebelumnya, sekolah cenderung memiliki semua unsur mulai dari perumusan dan pengendalian tujuan, pengendalian emosi, pembagian pekerjaan, serta perombakan organisasional. Singkatnya, sekolah merupakan unit sosial yang lebih efektif dan efisien dalam menghasilkan orang-orang yang berpengetahuan.

Implikasi terpenting dari semua pernyataan di atas adalah fakta bahwa kita berorganisasi dalam upaya untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Tentu saja menjadi pertanyaan besar bila ada suatu organisasi yang ternyata memiliki kondisi-kondisi berikut:

Tentang Tujuan:

a)      Tidak memiliki tujuan yang jelas, sehingga menimbulkan perdebatan di antara anggotanya;
b)      Memiliki tujuan, namun tidak memiliki penjabaran yang memadai berdasarkan skala-skala tertentu;
c)      Memiliki tujuan, namun perumusannya mengancam eksistensi organisasi bersangkutan dalam jangka panjang;
d)      Memiliki tujuan, namun tujuan tersebut bertentangan dengan tujuan atau peraturan yang ditetapkan oleh organisasi lebih besar (misalnya, pemerintah atau negara);
e)      Memiliki tujuan, namun tidak ada perangkat atau cara untuk mengendalikan pencapaian tujuan.

Tentang Pengendalian Emosi:

a)      Anggota organisasi umumnya terdiri dari sanak keluarga dan/atau memiliki hubungan kedekatan tertentu (nepotisme);
b)      Organisasi tidak memiliki peraturan tertulis (formalisasi) yang mengatur hubungan para anggotanya;
c)      Organisasi tidak menerapkan sanksi yang tegas dan seragam kepada setiap pelanggaran yang terjadi.

Tentang Pembagian Pekerjaaan:

a)      Pekerjaan tidak dipecah-pecah, tetapi dikumpulkan menjadi satu di tangan satu atau segelintir orang.
b)      Pekerjaan dipecah-pecah, namun tidak berhubungan dan/atau tidak disatukan.
c)      Satuan-satuan tugas tidak diisi oleh personel yang memiliki kualifikasi yang menunjang;
d)      Tidak ada perincian pekerjaan (job description) yang jelas.

Tentang Perombakan Organisasional:

a)      Organisasi tidak pernah mengadakan rotasi, promosi, atau degradasi terhadap personel-personelnya;
b)      Organisasi tidak berkeinginan mengeluarkan atau memecat personelnya yang kinerjanya terbukti tidak baik dan/atau melanggar peraturan;
c)      Organisasi tidak berkeinginan menyerap personel atau sumber daya baru lainnya;
d)      Organisasi tidak berkeinginan menyesuaikan diri dengan perkembangan lingkungan.


3.      Bagaimana Kita Berorganisasi?

Anda dan rekan-rekan mungkin sedang berencana membentuk atau sedang mengevaluasi keberadaan organisasi yang ada sekarang. Apa saja yang harus disiapkan untuk menyiapkan atau mengevaluasi hal tersebut?

Langkah pertama dan terutama adalah a) perumusan dan penjabaran tujuan secara eksplisit dan tertulis – visi, misi, strategi, kebijakan, program, proyek sesuai dengan lingkungan yang dihadapi. Ini adalah eksistensi organisasi. Tanpa tujuan, organisasi praktis tidak mungkin ada. Seperti telah dinyatakan di atas, kita mendirikan organisasi dalam upaya untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Tanpa kesadaran tujuan yang tinggi, kita tidak perlu susah payah mendirikan organisasi, cukup gunakan unit sosial yang ada sekarang – baik itu keluarga atau kelompok pertemanan.

Langkah berikutnya b) mengidentifikasi suprastruktur organisasi yang akan Anda dirikan. Anda hidup dalam belantara organisasi, beberapa di antaranya berada dalam posisi dominan dan mengatasi Anda. Mengingat status kemahasiswaan Anda, setiap upaya untuk mendirikan organisasi di lingkungan UI wajib memperhatikan berbagai peraturan yang ditetapkan Rektorat atau Dekanat mengenai hal tersebut. Ini memang dapat dianggap sebagai kendala, namun dari sisi lain, ini juga kekuatan dan sekaligus tantangan.

Langkah selanjutnya c) menyusun desain (struktur) organisasi. Dalam upaya ini, Anda harus memperhatikan beberapa hal. Pertama, desain harus mengikuti tujuan. Artinya, susun tujuan terlebih dulu, baru menetapkan struktur, bukan sebaliknya. Kedua, desain juga harus mengikuti bidang tugas dan/atau kebutuhan ril organisasi. Hindarkan praktik menyusun struktur organisasi yang rumit untuk bidang tugas yang sederhana. Terakhir, desain setidaknya harus mengandung 3 komponen pokok: kompleksitas (pembagian pekerjaan), sentralisasi (hierarki, wewenang mengambil keputusan), serta integrasi (penyatuan pekerjaan dan personel sebagai individu atau kelompok manusia).

Berikutnya d) merekrut dan mengisi posisi/jabatan organisasi. Prinsipnya, Anda harus menegakkan “orang yang tepat pada posisi yang tepat.” Dalam kaitan ini yang menjadi patokan adalah tetapkan dulu posisi (dalam strukturnya), baru tetapkan orang yang mengisinya. Jangan sebaliknya. Ini adalah langkah awal untuk menciptakan sistem, yakni peluruhan kepribadian individu ke dalam kepribadian organisasi. Dalam sistem, organisasi tidak bergantung kepada individu dengan personalitasnya. Siapa pun orang yang mengisi jabatan, organisasi akan tetap berjalan karena yang dibutuhkan organisasi adalah kualifikasi objektif.

Terakhir e) menentukan pimpinan organisasi. Pemimpin adalah reifikasi (perwujudan) konkret dari organisasi. Tanpa pemimpin, organisasi akan tetap abstrak, sosok yang tidak dapat dilihat atau diraba. Namun perbedaan mendasar antara pemimpin organisasi dengan unit-unit sosial lainnya terletak pada dua hal esensial: individu meluruhkan diri kepada organisasi, bukan sebaliknya; dan adanya mekanisme suksesi yang objektif untuk mengganti pimpinan.


4.      Penutup

Paparan di atas tentu saja adalah suatu model teoritik atau tipe ideal. Dalam kenyataan empirik, kondisi ini tidak sepenuhnya tepat. Ada daya tarik-menarik antara kenyataan dan ide. Di sinilah terletak seni yang berada di tengah. Patokan untuk mengetahui apakah Anda berada di tengah atau tidak adalah kembali ke kinerja organisasi yang bersangkutan. Apapun model organisasi yang Anda kembangkan, model tersebut tepat dan dapat dibenarkan sepanjang organisasi tersebut terbukti efektif dan/atau efisien. 


id/99  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar