Rabu, 24 Februari 2016

Gerilyawan Budaya



[Artikel untuk Koran, ditulis tahun 1996]

Perkembangan terakhir ini menunjukkan bahwa telah terjadi pertempuran, bukan pertempuran fisik melainkan mental. Adapun senjatanya bukan senapan lengkap dengan amunisinya, melainkan konsep dan simbol. Cara bertempurnya pun unik, tidak berhadapan langsung dan membidikkan larasnya kepada pihak lawan, melainkan bak anak-anak bermain petak umpet – muncul sebentar, tembak sana tembak sini tanpa arah, kemudian menghilang dari permukaan untuk muncul lagi, demikian seterusnya. Gelanggang pertempuran mereka bukan lapangan terbuka dengan latar belakang panorama alam, melainkan media massa.

Mengingat hal itu, adalah wajar bila pertempuran tidak sepenuhnya dapat dilihat dan disadari oleh masyarakat awam; kendati hal itu sebenarnya telah berlangsung lama dengan intensitas yang semakin meningkat. Beberapa korban telah berjatuhan.

Salah satu pelaku pertempuran inilah, baik yang masih segar-bugar maupun yang sedang babak-belur atau malah sudah tergeletak tak berdaya, yang dalam tulisan ini disebut sebagai – meminjam istilah seorang teman – gerilyawan budaya.


Profil

Secara umum, gerilyawan budaya dapat disebut sebagai golongan intelektual. Mereka yang mengandalkan diri pada kemampuan otak ketimbang tenaga wadag. Mereka yang (masih) percaya pada idealisme dalam segala wujud nilainya – nurani, akhlak, etika, dan moralitas. Mereka yang terusik dan tidak bisa tinggal diam, ketika suatu realitas sosial berjalan tidak di atas rel yang sesungguhnya. Mereka yang bacar-mulut, tidak bisa mengatupkan gerahamnya ketika silent majority menyaksikan suatu drama kolosal tentang ketidakadilan, kesewenang-wenangan, dan penderitaan. Mereka adalah, singkatnya, potret ideal yang selama ini digambarkan sebagai kelas menengah.

Beberapa gerilyawan budaya adalah intelektual murni karena profesi mereka sehari-hari memang bertalian dengan konsep dan simbol. Dan lagi pula mereka relatif independen karena bekerja sebagai karyawan swasta. Beberapa lainnya bahkan lebih independen lagi karena mereka bekerja secara mandiri (wiraswasta). Sedangkan sisanya kurang-lebih campuran: berprofesi manajerial-teknis dan independen atau berprofesi konseptual namun dependen, dan sebagainya.

Perkembangannya menjadi semakin semarak ketika gerilyawan budaya mendapat anggota baru. Anggota ini sebenarnya bukan intelektual murni dan pososi pekerjaannya pun adalah dependen. Sebagian besar mereka sudah tidak berada pada posisi semula, namun beberapa di antaranya masih aktif. Kondisi ini jelas sangat menarik karena sebelumnya mereka dan rekan-rekannya itulah yang menjadi pusat penyerangan gerilyawan budaya.


Modus

Seperti dalam perang kemerdekaan, umumnya gerilyawan budaya menyadari bahwa kondisi pihak lawan adalah jauh lebih kuat dibanding kondisi mereka. Mereka tidak memiliki prasarana dan sarana yang memadai seperti modal, perlengkapan, personil, pengalaman, dan sebagainya. Singkatnya, mereka tidak memiliki kekuasaan ril.

Dari pengalaman sebelumnya, mereka melihat bagaimana sejumlah orang yang mengajukan inisiatif pembaharuan berjatuhan, tumbang satu demi satu. Sebagian tersungkur karena mereka memilih bertempur secara fisik. Sebagian lain terhempas karena mereka memilih bertempur dengan senjata jargon-jargon brutal yang ditodongkan langsung ke pihak lawan.

Gerilyawan budaya memilih cara yang berlainan. Namun mereka pun menolak posisi bertopang dagu, duduk tenang dan membisu. Mereka memutuskan untuk bereaksi dalam bentuk filosofi yang paling tinggi – bergerak namun tidak bergerak. Bertindak dalam bayangan, tanpa wujud, perseorangan, spontan, menyebar, sporadis, tanpa asosiasi. Satu-satunya ikatan yang menyatukan mereka adalah ide.

Dan justru ide inilah yang diandalkan sebagai senjata pamungkas. Sebagian gerilyawan membuat pernyataan dalam bentuk konsep abstracta atau illata. Sebagian lainnya membuat sejumlah karya seni yang sarat dengan makna simbolik. Tujuan mereka yang paling hakiki adalah diam bukan berarti setuju, ada sesuatu yang salah di sana-sini dan harus segera diperbaiki.

Mereka melihat pada dasarnya kelanggengan suatu kekuasaan disumbang oleh asas legalitas dan legitimasi. Bila instrumen teknis-formal dengan mudah dapat dimanipulasi oleh pihak lawan, maka mereka memilih untuk berkomunikasi langsung dengan pihak mayoritas. Dan dengan bantuan telekomunikasi global yang ada sekarang ini, gerilyawan budaya berharap pihak mayoritas beranjak dari kebisuannya, menyatakan pendapatnya; karena pada prinsipnya mereka inilah yang menjadi sumber kekuasaan yang sesungguhnya.

Rentetan peluru halus yang ditembakkan oleh para partisan kultural ini tentunya jangan dibandingkan dengan roket exocet, scud, atau bom atom yang mampu meluluhlantakkan suatu bangunan dalam sekejap. Peluru mereka mungkin hanya akan menimbulkan lubang-lubang kecil. Namun dalam jangka panjang lubang-lubang itu akan menimbulkan kebocoran yang dapat menenggelamkan kapal.

Gambaran ini tentunya disadari juga oleh pihak lawan. Mereka memberikan reaksi balasan. Ide dilawan ide. Konsep dilawan konsep. Simbol dilawan simbol. Dan media massa sekarang telah menjadi ajang perkelahian yang seru. Bahkan pihak media massa itu sendiri sering terlibat langsung (walau dengan sikap malu-malu), membela salah satu pihak yang bertikai.

Kontras dengan gerilyawan budaya, serangan atau perlawanan pihak lawan umumnya kurang begitu elegan. Mungkin karena menyadari posisinya sebagai pihak yang lebih kuat, konsep atau simbol yang mereka ajukan cenderung menohok, dan kurang terumuskan dengan baik. Dalam suatu kesempatan misalnya, mereka akan menuduh kaum gerilyawan dengan sebutan-sebutan yang condong akan membangkitkan emosi mayoritas karena bertalian erat dengan trauma di masa lampau; menggolongkan mereka sebagai unit tak berwujud, dan sebagainya. Dalam kesempatan lain, mereka mengajukan konsep yang sulit dimengerti namun sangat jelas dalam ancamannya.


Penutup

Gerilyawan budaya adalah suatu gejala yang wajar. Mereka pasti akan hadir dalam setiap masa. Namun ketika mereka bertumbuhan bak jamur di musim hujan, mungkin hal ini dapat dipakai sebagai indikator bahwa ada sesuatu yang salah atau keliru. Ada dua lapisan masalah yang terjadi di sini. Pertama, masalah kongkrit yang dialami dalam bidang tertentu seperti ekonomi dan politik misalnya. Kedua, masalah hambatan komunikasi, yang tidak memungkinkan salah satu pihak untuk mengungkapkan masalahnya secara terbuka.

Karena itulah kehadiran gerilyawan budaya sebenarnya harus ditanggapi secara positif. Bagaimana pun mereka adalah jauh lebih baik dibanding pewarta isu atau gosip. Selain isi isunya yang sering tidak dapat dipertanggungjawabkan, para pewarta itu sendiri tidak dapat dengan mudah diidentifikasi, baik figur dan kredibilitasnya maupun maksud dan tujuan isu itu sendiri.

Gerilyawan budaya harus ditanggapi dengan senjata yang sama: konsep dan simbol yang dirumuskan secara elegan. Hal yang harus dihindari adalah hilangnya kesabaran salah satu pihak, sehingga ia gelap mata dan lebih memilih bertarung melalui terorisme konsep dan tindakan fisik yang dapat merenggut korban jiwa.

M. Iqbal Djajadi
Sosiolog, FISIP-UI

1 komentar:


  1. DEPOSIT PULSA TANPA POTONGAN IDN POKER DOMINOQQ RESMI DAN TERPECAYA SE-ASIA S1288POKER


    DAFTAR FREECHIP SITUS SLOT ONLINE TERMURAH DAN TERPECAYA CLUB388CASH SE-ASIA

    MASIH BANYAK PERMAINAN CASINO LIVE POKER CEME SABONG AYAM DAN PERMAINAN LAIN SERUNYA !! TENTUNYA EVENT BONUS PROMO SETIAP BULAN NYA YANG MANTAPPP ^^
    CS 24jam Online
    JANGAN SAMPAI KEHABISAN FREECHIPSNYA !!

    SEHAT SELALU UNTUK KITA SEMUA ...ALWAYS THANKFULL AND GRATEFULL ^^

    BalasHapus