[Artikel untuk Koran, ditulis tahun 1996]
Perkembangan terakhir ini menunjukkan
bahwa telah terjadi pertempuran, bukan pertempuran fisik melainkan mental.
Adapun senjatanya bukan senapan lengkap dengan amunisinya, melainkan konsep dan
simbol. Cara bertempurnya pun unik, tidak berhadapan langsung dan membidikkan
larasnya kepada pihak lawan, melainkan bak anak-anak bermain petak umpet –
muncul sebentar, tembak sana tembak sini tanpa arah, kemudian menghilang dari
permukaan untuk muncul lagi, demikian seterusnya. Gelanggang pertempuran mereka
bukan lapangan terbuka dengan latar belakang panorama alam, melainkan media
massa.
Mengingat hal itu, adalah wajar bila
pertempuran tidak sepenuhnya dapat dilihat dan disadari oleh masyarakat awam;
kendati hal itu sebenarnya telah berlangsung lama dengan intensitas yang
semakin meningkat. Beberapa korban telah berjatuhan.
Salah satu pelaku pertempuran inilah,
baik yang masih segar-bugar maupun yang sedang babak-belur atau malah sudah
tergeletak tak berdaya, yang dalam tulisan ini disebut sebagai – meminjam
istilah seorang teman – gerilyawan budaya.
Profil
Secara umum, gerilyawan budaya dapat
disebut sebagai golongan intelektual. Mereka yang mengandalkan diri pada
kemampuan otak ketimbang tenaga wadag. Mereka yang (masih) percaya pada
idealisme dalam segala wujud nilainya – nurani, akhlak, etika, dan moralitas.
Mereka yang terusik dan tidak bisa tinggal diam, ketika suatu realitas sosial
berjalan tidak di atas rel yang sesungguhnya. Mereka yang bacar-mulut, tidak bisa
mengatupkan gerahamnya ketika silent
majority menyaksikan suatu drama kolosal tentang ketidakadilan,
kesewenang-wenangan, dan penderitaan. Mereka adalah, singkatnya, potret ideal
yang selama ini digambarkan sebagai kelas menengah.
Beberapa gerilyawan budaya adalah
intelektual murni karena profesi mereka sehari-hari memang bertalian dengan
konsep dan simbol. Dan lagi pula mereka relatif independen karena bekerja
sebagai karyawan swasta. Beberapa lainnya bahkan lebih independen lagi karena
mereka bekerja secara mandiri (wiraswasta). Sedangkan sisanya kurang-lebih
campuran: berprofesi manajerial-teknis dan independen atau berprofesi
konseptual namun dependen, dan sebagainya.
Perkembangannya menjadi semakin semarak
ketika gerilyawan budaya mendapat anggota baru. Anggota ini sebenarnya bukan
intelektual murni dan pososi pekerjaannya pun adalah dependen. Sebagian besar
mereka sudah tidak berada pada posisi semula, namun beberapa di antaranya masih
aktif. Kondisi ini jelas sangat menarik karena sebelumnya mereka dan
rekan-rekannya itulah yang menjadi pusat penyerangan gerilyawan budaya.
Modus
Seperti dalam perang kemerdekaan,
umumnya gerilyawan budaya menyadari bahwa kondisi pihak lawan adalah jauh lebih
kuat dibanding kondisi mereka. Mereka tidak memiliki prasarana dan sarana yang
memadai seperti modal, perlengkapan, personil, pengalaman, dan sebagainya.
Singkatnya, mereka tidak memiliki kekuasaan ril.
Dari pengalaman sebelumnya, mereka
melihat bagaimana sejumlah orang yang mengajukan inisiatif pembaharuan
berjatuhan, tumbang satu demi satu. Sebagian tersungkur karena mereka memilih
bertempur secara fisik. Sebagian lain terhempas karena mereka memilih bertempur
dengan senjata jargon-jargon brutal yang ditodongkan langsung ke pihak lawan.
Gerilyawan budaya memilih cara yang
berlainan. Namun mereka pun menolak posisi bertopang dagu, duduk tenang dan
membisu. Mereka memutuskan untuk bereaksi dalam bentuk filosofi yang paling
tinggi – bergerak namun tidak bergerak. Bertindak dalam bayangan, tanpa wujud,
perseorangan, spontan, menyebar, sporadis, tanpa asosiasi. Satu-satunya ikatan
yang menyatukan mereka adalah ide.
Dan justru ide inilah yang diandalkan
sebagai senjata pamungkas. Sebagian gerilyawan membuat pernyataan dalam bentuk
konsep abstracta atau illata. Sebagian lainnya membuat
sejumlah karya seni yang sarat dengan makna simbolik. Tujuan mereka yang paling
hakiki adalah diam bukan berarti setuju, ada sesuatu yang salah di sana-sini
dan harus segera diperbaiki.
Mereka melihat pada dasarnya
kelanggengan suatu kekuasaan disumbang oleh asas legalitas dan legitimasi. Bila
instrumen teknis-formal dengan mudah dapat dimanipulasi oleh pihak lawan, maka
mereka memilih untuk berkomunikasi langsung dengan pihak mayoritas. Dan dengan
bantuan telekomunikasi global yang ada sekarang ini, gerilyawan budaya berharap
pihak mayoritas beranjak dari kebisuannya, menyatakan pendapatnya; karena pada
prinsipnya mereka inilah yang menjadi sumber kekuasaan yang sesungguhnya.
Rentetan peluru halus yang ditembakkan
oleh para partisan kultural ini tentunya jangan dibandingkan dengan roket exocet, scud, atau bom atom yang mampu
meluluhlantakkan suatu bangunan dalam sekejap. Peluru mereka mungkin hanya akan
menimbulkan lubang-lubang kecil. Namun dalam jangka panjang lubang-lubang itu akan
menimbulkan kebocoran yang dapat menenggelamkan kapal.
Gambaran ini tentunya disadari juga oleh
pihak lawan. Mereka memberikan reaksi balasan. Ide dilawan ide. Konsep dilawan
konsep. Simbol dilawan simbol. Dan media massa sekarang telah menjadi ajang perkelahian
yang seru. Bahkan pihak media massa itu sendiri sering terlibat langsung (walau
dengan sikap malu-malu), membela salah satu pihak yang bertikai.
Kontras dengan gerilyawan budaya,
serangan atau perlawanan pihak lawan umumnya kurang begitu elegan. Mungkin
karena menyadari posisinya sebagai pihak yang lebih kuat, konsep atau simbol
yang mereka ajukan cenderung menohok, dan kurang terumuskan dengan baik. Dalam
suatu kesempatan misalnya, mereka akan menuduh kaum gerilyawan dengan
sebutan-sebutan yang condong akan membangkitkan emosi mayoritas karena
bertalian erat dengan trauma di masa lampau; menggolongkan mereka sebagai unit
tak berwujud, dan sebagainya. Dalam kesempatan lain, mereka mengajukan konsep
yang sulit dimengerti namun sangat jelas dalam ancamannya.
Penutup
Gerilyawan budaya adalah suatu gejala
yang wajar. Mereka pasti akan hadir dalam setiap masa. Namun ketika mereka
bertumbuhan bak jamur di musim hujan, mungkin hal ini dapat dipakai sebagai
indikator bahwa ada sesuatu yang salah atau keliru. Ada dua lapisan masalah
yang terjadi di sini. Pertama, masalah kongkrit yang dialami dalam bidang
tertentu seperti ekonomi dan politik misalnya. Kedua, masalah hambatan
komunikasi, yang tidak memungkinkan salah satu pihak untuk mengungkapkan masalahnya
secara terbuka.
Karena itulah kehadiran gerilyawan
budaya sebenarnya harus ditanggapi secara positif. Bagaimana pun mereka adalah
jauh lebih baik dibanding pewarta isu atau gosip. Selain isi isunya yang sering
tidak dapat dipertanggungjawabkan, para pewarta itu sendiri tidak dapat dengan
mudah diidentifikasi, baik figur dan kredibilitasnya maupun maksud dan tujuan
isu itu sendiri.
Gerilyawan budaya harus ditanggapi
dengan senjata yang sama: konsep dan simbol yang dirumuskan secara elegan. Hal
yang harus dihindari adalah hilangnya kesabaran salah satu pihak, sehingga ia
gelap mata dan lebih memilih bertarung melalui terorisme konsep dan tindakan
fisik yang dapat merenggut korban jiwa.
M. Iqbal Djajadi
Sosiolog, FISIP-UI
BalasHapusDEPOSIT PULSA TANPA POTONGAN IDN POKER DOMINOQQ RESMI DAN TERPECAYA SE-ASIA S1288POKER
DAFTAR FREECHIP SITUS SLOT ONLINE TERMURAH DAN TERPECAYA CLUB388CASH SE-ASIA
MASIH BANYAK PERMAINAN CASINO LIVE POKER CEME SABONG AYAM DAN PERMAINAN LAIN SERUNYA !! TENTUNYA EVENT BONUS PROMO SETIAP BULAN NYA YANG MANTAPPP ^^
CS 24jam Online
JANGAN SAMPAI KEHABISAN FREECHIPSNYA !!
SEHAT SELALU UNTUK KITA SEMUA ...ALWAYS THANKFULL AND GRATEFULL ^^